Halo perkenalkan, namaku Kira asal dari kota P, aku mempunyai bisnis pulsa dan jasa transfer bank di tokoku sendiri. Sekarang aku sudah berumur 24 tahun, aku sudah menjalani hidup hamper seperempat serratus tahun. Istilah yang cocok untuk umur sekarang ialah quarter life, dimana aku sendiri sedang mengalami yang biasa disebut quarter life crisis tersebut. Quarter Life sendiri ialah istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umunya dialami oleh orang berusia 20 hingga 30 tahun.
Aku mengenal beberapa perempuan hebat yang pernah aku temui semasa hidupku, salah satunya waktu sekolah dasar maupun sekolah menengah juga di unicersitas maupun di jalanan. Semua membawa keanggunannya masing masing. Salah satunya ialah Bela. Seorang sahabat sekolah menengah yang pernah aku sukai bahkan aku juga pernah mencoba menjadikannya kekasihku namun karena hal itu pun ia perlahan menjauh dariku. Aku bertemu dengannya lagi baru ini di sebuah angkringan di tepi kota P.
Sejak dari dulu Bela masih saja cantik serta manis dengan kacamata merahnya. Ia lucu namun dengan tingkahnya namun baik dengan kepribadiannya. Saat itu ia mengucapkan salam dulu kepadaku. Aku pun terkejut dengan kehadiran sahabat lamaku, kebetulan Bela sendirian maka aku ajak untuk makan bersama. Sekedar untuk mengobrol – ngobrol mencari pelajaran hidup dan ceria karena berbagi cerita. Aku cerita banyak dengan Bela, ia pun juga, aku senang, aku harap iapun juga.
Takdir mempertumakan aku dan bela Kembali di sebuah cafĂ© dekat stasiun kereta kota P. Ia dengan sahabat perempuannya. Serta aku dengan 2 temanku. Kami memutuskan untuk memisahkan diri terlebih dahulu dari teman – teman kami.
Saat kami mengobrol lagi entah kenapa semua terjadi begitu lancer mengalir tanpa hambatan, sepertinya kami menikmati momen kebersamaan seperti saat ini. Aku pun mengeluarkan kata kata secara tidak sengaja saking nyamannya. Mengajaknya untuk menikah denganku.
“Bel, kalo aku nikah sama kamu aku pasti akan Bahagia seumur hidupku” saat itu aku tidak berpikiran kedepannya. Kata itu terceplos saja tanpa ada unsur tanggung jawab didalamnya. Namun Bela menjawab “Iya boleh, Siapa tahu kalo belum dijalanin kan”. Deg, aku kaget namun juga Bahagia mendengar ceritanya. “Bel serius ini?” Bela pun menjawab “Iyaaa serius Kiraaa, mau kapan emang nikahnya?”
Setelah obrolan itu kami memutuskan untuk menikah minggu depan. Semua terjadi dengan lancarnya hingga setelah pernikahan, kami tinggal mengontrak di tepi Kota P, karena kami suka dengan suasananya yang tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi. Kami berbahagia, setiap saat bersama, selalu menyenangkan satu sama lain, memnuhi kebutuhan satu sama lain juga. Hingga suatu saat aku kacau seperti hilang ingatan, karena aku lupa bahwa aku sudah menikah. Aku Kembali ke Toko lamaku dan tidur di tempat itu lagi selama beberapa hari. Aku tidak menyalakan hp utamaku, tokonya pun selalu kututup. Mengasingkan diri secara mendadak, penyakitku yang tidak wajar dan jarang sekali terjadi. AKu melupakan semuanya… Hingga Bela pun dating ke tokoku setelah mencariku kemana mana. Aku dipeluk oleh Bela dan diajaknya untuk Kembali pulang. Bela tidak marah dengaku, ia justru merangkulku, menemaniku hingga aku sudah hamper 25 tahun dengannya sekarang. Penyakitku sudah sembuh, semua karena Bela.
Terima Kasih Bela, kamu penyelamat hidupku, kamu sahabat terbaik dalam hidupku, kamu kekasih terbaik dalam hidupku, kamu yang terbaik bagiku.
No comments:
Post a Comment